PERBEDAAN MODAL DASAR DAN MODAL DISETOR

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on pinterest
Pinterest
Share on reddit
Reddit
Share on email
Email
Modal dasar perseroan terdiri dari atas seluruh nilai nominal saham dengan nominal paling sedikit 50 (lima puluh) juta rupiah. Paling sedikit 25% (dua puluh lima persen) dari modal dasar sebagaimana dimaksud dalam Pasal 32 Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas (UU PT) harus ditempatkan dan disetor penuh yang dibuktikan dengan bukti penyetoran yang sah. Penyetoran atas modal tersebut dapat dillakukan dalam bentuk uang dan/atau dalam bentuk barang.

Modal Dasar

M. Yahya Harahap dalam buku yang berjudul Hukum Perseroan Terbatas sebagaimana dikutip oleh Tri Jata Ayu Pramesti, S.H. dalam artikel yang berjudul Perbedaan Modal Dasar, Modal Ditempatkan, dan Modal Disetor PT Modal Dasar didefinisikan sebagai selurruh nilai nominal saha Perseroan yang disebut dalam Anggaran Dasar. Modal dasar perseroan pada prinsipnya merupakan total jumah saham yang dapat diterbitkan oleh perseroan. Anggaran dasar senidiri yang menentukan berapa jumlah saham yang dijadikan modal dasar. Jumlah yang ditentukan dalam Anggaran Dasar merupakan nilai nominal yang murni.

Pada peraturan yang membahas mengenai Perseroan Terbatas yaitu Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 Pasal 32 tertulis bahwa:

  1. Modal dasar Perseroan paling sedikit Rp. 50.000.000,00 (lima puluh juta rupiah).
  2. Undang-undang yang mengatur kegiatan usaha tertentu dapat menentukan jumlah minimum modal Perseroan yang lebih besar daripada ketentuan modal dasar sebagaimana dimkasudpada ayat 1 .
  3. Perubahan besarnya modal dasar sebagaimana dimasud pada ayat 1, ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah.

Berikut merupakan ilustrasi modal dasar yang bisa dijadikan referensi:

PT ABC mengeluarkan saham sebesar 50.000 dengan nilai saham Rp.1.200 per lembar, maka perhitungan Modal Dasar atau nilai saham keseluruhan yang dimiliki oleh PT ABC adalah 50.000 x Rp. 1.200 = Rp.60.000.000,00 (enam puluh juta rupiah)

Modal Disetor

Sedangkan Modal Disetor sebagaimana dituliskan M. Yahya Harahap masih dalam buku yang sama disebutkan sebagai modal yang sudah dimasukan pemegang saham sebagai pelunasan pembayaran saham yang diambilnya sebagai modal yang ditempatkan dari modal dasar perseroan. Jadi, modal disetor adalah saham yang telah dibayar penuh oleh pemegang atau pemiliknya. ( 2016:4, Hukum Perseroan Terbatas).

Adapun aturan mengenai modal disetor yaitu dalam Pasal 33 Undang-Undang tentang Perseroan Terbatas adalah sebagai berikut :

  1. Paling sedikit 25 % (dua puluh lima persen) dari modal dasar sebagaimana dimaksud dalam pasal 32 harus ditempatkan dan disetorkan penuh.
  2. Modal ditempatkan dan disetor pebuh sebagaimana dimkasud pada ayat 1 dibuktikan dengan bukti penyetoran yang sah.
  3. Pengeluaran saham lebih lanjut yang dilakukan setiap kali untuk menambah modal yang ditempatkan harus disetor penuh.

Berikut ilustrasi Modal Disetor yang bisa dijadikan acuan :

PT ABC dimiliki oleh Pak Agus dan  Pa Roni dengan Modal Dasar 50 lebar saham senilai 1200 perlembar. Keduanya memutuskan untuk mengambil 70% saham sebagai Modal Ditempatkan atau setara dengan 35 lembar saham. Sehingga

Modal dasar adalah 50.000 x 1200 = 60.000

Modal Ditempatkan 35.000 x 1200 = 42.000

Pak Agus dan Pak Roni membayar Modal Ditempatkan sebesar Rp.25.000.000 pada termin pertama dan inilah yang dinamakan dengan Modal Disetor. Sisa Modal yang belum disetor harus udah dilunasi oleh Pak Agus dan Pak Roni saat pendirian PT.

Sudahkah Anda terbantu dengan penjelasan diatas? Silakan hubungi kami untuk konsutasi Hukum Perusahaan melalui nara hubung dibawah ini.

Legalitas Kita
Hotline 1 : +62 811 1778 805
Hotline 2 : +62 821 1200 7880
Email : info@legalitaskita.com